Kartini-Kartini Masa Rasulullah saw
Negeri ini sebenarnya banyak melahirkan pahlawan wanita selain Kartini, bahkan banyak lagi yang lebih “hebat” dari dia. Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita, namun ide dan gagasannya tentang kesetaraan derajat antara kaum wanita dan pria telah melampaui batas-batas teritorial.
Pada masa nenek moyang kita
dijajah Belanda selama ratusan tahun dulu, telah banyak wanita-wanita pejuang
kemerdekaan yang lahir. Sebut saja Nyi Ahmad Dahlan, Cut Nyak Dien, Cut Nyak
Meutia, Laksamana Malahayati, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika dan lainnya.
Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda-beda, demi
kemerdekaan dan kejayaan bangsa ini. Ada yang berjuang dengan mengangkat
senjata, ada yang melalui pendidikan, ada juga yang melalui organisasi maupun
cara lainnya.
Jauh sebelum kelahiran dan
kehadiran pejuang-pejuang wanita dalam sejarah bangsa Indonesia, telah muncul
dan lahir sejumlah pejuang wanita tangguh yang membela Islam pada masa
Rasulullah dulu.
v Khadijah ra. (istri pertama rasulullah saw)
Ia termasuk pejuang wanita yang paling dikenang dalam sejarah
agama islam. Tidak hanya berkorban harta benda, Khadijah termasuk wanita
pertama yang masuk islam dan membela agama Allah ini dengan segenap jiwa
raganya. Tak heran jika ia dijuluki “Khadijah al-Kubra”, yang agung. Bahkan
Rasulullah pun sangat kehilangan ketika istrinya itu meninggal dunia, hingga
tahun wafatnya disebut dengan “amul
huzni” tahun duka cita.
v Aisyah ra. (istri rasulullah saw)
Putri sahabat Nabi, Abu bakar as-shiddiq ini memiliki peran yang
sangat penting sepanjang sejarah perjuangan dakwah islam. Aisyah termasuk
perawi hadits terbanyak dan tempat belajarnya para sahabat. Bahkan, ada ulama
yang mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu
Aisyah, maka ilmu Aisyah akan lebih banyak. Ia pun dijuluki “Ummul Mukminin” ibunya kaum mukmin.
v Nasibah binti Kaab
Ia biasa dikenal dengan sebutan Ummu Imarah. Dia adalah
mujahidah pembawa air dalam Perang Uhud. Istilah kerennya, dapatlah dikatakan
kalau Ummu Imarah ini adalah pejuang dibagian logistik. Bahkan ditengah
berkecamuknya Perang Uhud, Ummu Imarah tidak hanya bertugas membagi air, dia
turut pula mengangkat pedang dan busur panah guna menghalau kaum kafir yang
ingin mendekati dan membunuh Rasulullah saw. Bersama Mush’ab bin umair, Ummu
Imarah berhasil melindungi rasulullah dari sabetan pedang tentara quraiys
bernama Ibnu Qamiah, padahal saat itu dia dalam kondisi luka parah. Setiap kali
aku melihat kanan-kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku pada perang uhud,
kenang rasulullah saw. Begitulah ketangguhan Ummu Imarah.
v Asma binti Abu Bakar
Asma binti Abu bakar juga termasuk “Kartini” pada masa
Rasulullah. Adik dari Ummul Mukmini Aisyah ini termasuk sahabat wanita yang
terkemuka dan masuk islam sejak dini. Yang paling dikenal sejarah dalam
perjuangan asma adalah dalam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. Dengan
menahan berbagai penderitaan dan penuh kesabaran dia membawa bekal bagi
Rasulullah saw dan Abu Bakar as-Shiddiq, ayahnya. Dia dijuluki “Dzaatin Nithaqain” wanita yang memiliki
dua sabuk. Karena memotong ikat pingggangnya menjadi dua bagian; satu bagian
untuk tempat makanan dan satunya lagi untuk tempat minuman.
v Asma Binti Yazid al-Anshariah
Asma binti Yazid al-Anshariah, salah seorang orator wanita
terkemuka yang terkenal berani dan selallu tampil kedepan. Dia adalah seorang
ahli hadits yang sempat mengikuti Perang Yarmuk. Dalam perang tersebut ia
bertugas dibagian logistic dan medis, menyuplai minuman kepada para pejuang dan
mengobati yang terluka. Suatu ketika, disaat peperangan sedang berkecamuk dia
mengambil tiang kemahnya dan maju ke medan pertempuran dan berhasil membunuh
sembilan prajurit romawi.
v Khansa binti Amru
Khansa binti Amru. Pada mulanya dia adalah penyair yang
terkenal. Datang menjumpai Rasulullah saw mewakili kaumnya, kemudian masuk
islam dan melantunkan syair yang membuat Rasulullah saw kagum. Pada perang
Qadisiyah, Khansa binti Amru mati syahid. Sebelumnya, sang suami dan empat
oranng anaknya telah syahid lebih dahulu pada pertempuran itu.
v Rufaidah al-Anshariah
Kenalkan pula wanita yang satu ini Rufaidah al-Anshariah. Dia
termasuk perawat wanita pertama dalam sejarah Islam. Tugasnya merawat para
tentara yang terluka di medan perang. Pengabdiannya di bidang rawat-merawat ini
sangat teruji. Dan dengan sepenuh hati dia mengabdikan dirinya untuk melayani
para pejuang Islam. Dialah yang membalut luka Sa’ad bin Abi Waqqash ketika
dibawa ke kemahnya sewaktu Perang Khandaq.
v Syifa binti Abdullah al-Adawiah al-Quraisyiah
Kemudian wanita yang satu ini. Namanya, Syifa binti Abdullah
al-Adawiah al-Quraisyiah. Pada zaman jahiliyah sudah pandai baca-tulis dan
setelah Islam dia mengajari Hafsah (salah satu istri Rasulullah) membaca dan
menulis. Demi meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran yang dilakukannya,
Rasulullah memberikannya sebuah rumah di Madinah. Ia termasuk guru wanita
pertama di masa perjuangan Islam.
Demikian sekilas gambaran para
“Kartini” di awal sejarah kehadiran Islam. Masih banyak lagi pejuang-pejuang
wanita Muslimah lainnya. Mereka telah muncul dan hadir jauh sebelum Ibu Kita
Kartini. Dan perjuangan mereka pun tidak hanya berdampak pada skala lokal
(wilayah Arab) saja, tapi merambah dunia internasional. Tujuannya pun, tidak
hanya untuk kehidupan dunia semata, tapi akhirat. Sebab, misi utama mereka
adalah jihad fi sabilillah. Mereka hanya berharap surga dan bertemu Tuhannya,
tidak berharap gelar kepahlawanan. Merekalah yang sepatutnya kita teladani.
# Mading Edisi Memperingati Hari Kartini (dikutip dari berbagai sumber)
# Mading Edisi Memperingati Hari Kartini (dikutip dari berbagai sumber)

Komentar
Posting Komentar